pusing.....
aduh pusingg.....
artepolis...
jatinegara.......
tes tpa.....
tianshi......
ah..yg terakhir mah bikin semangat....ayo...go diamond !!!
semangat....semangat....semangat.....semangat......
aduh pusingg.....
artepolis...
jatinegara.......
tes tpa.....
tianshi......
ah..yg terakhir mah bikin semangat....ayo...go diamond !!!
semangat....semangat....semangat.....semangat......
oleh : Ust. Husein Al-Kaff
Menyibak kembali lembaran-lembaran kehidupan manusia-manusia suci - khususnya Imam Al-Husain as. - akan memberikan kepada kita, sebagai makhluk Tuhan yang paling fenomenal di jagad raya ini, sebuah arti jati diri dan nilai kemanusiaan. Di saat umat manusia kebingungan dalam memahami hakikat (esensi) dirinya - kebingungan itu tampak jelas dalam interpretasi-interpretasi yang dituangkan dalam filsafat-materialis dan dalam sikap manusia ketika berhadapan dengan alam sekitar - orang-orang suci datang untuk menjelaskan problema yang super sulit, yaitu apa hakikat manusia ?
Para nabi dan imam as. berusaha menjelaskan tentang manusia. Lebih dari itu, mereka pun menampilkan diri mereka sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya. Setiap ucapan dan perbuatan mereka merupakan sisi atau wajah yang indah dari hakikat manusia. Mereka akan selalu tampil indah dan menawan karena mereka adalah manusia yang sebenarnya. Oleh karena manusia adalah manifestasi Tuhan yang paling jelas, maka ia adalah khalifah-Nya, pembawa pesan-Nya dan ia menjadi sebab diciptakannya alam raya. Dalam pandangan Islam, kemanusiaan adalah pengenalan manusia akan dirinya sebagai ciptaan Allah dan upayanya untuk memerdekakan diri dengan-Nya. Atau, dengan kata lain, manusia yang hakiki adalah manusia yang beriman dengan sumber wujudnya dan berusaha untuk sampai kepada-Nya.
Tidak heran dan sangat beralasan kalau manusia-manusia suci itu teladan yang terbaik, dan segala gerak-gerik mereka patut ditiru dan diikuti. Tanpa mengikuti dan meniru mereka kita tidak akan dapat memahami manusia dan bahkan tidak akan mungkin menjadi manusia yang sebenarnya. Mereka adalah cermin kemanusiaan yang bersih untuk kita bercermin kepada mereka sehingga kita dapat mengetahui bagian mana dari wajah-wajah kita yang jelek dan kotor. Mereka adalah standar yang paten agar kita dapat mengukur setinggi apa kemanusiaan yang kita miliki. Rasulullah Saww. pernah bersabda bahwa Ali adalah barometer untuk mengukur keimanan seseorang. Beliau juga bersabda, "Wahai Ali, tidak ada yang mencintaimu kecuali orang mukmin dan tidak ada yang membencimu kecuali orang munafik" dan beliau bersabda, "Ali selalu bersama kebenaran dan kebenaran akan selalu bersama Ali. Keduanya beriringan ke manapun berputar". Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, "Sesungguhnya kebenaran dan kebatilan tidak diukur (diketahui) dengan kedudukan orang. Tetapi kenalilah kebenaran niscaya kamu mengetahui orangnya dan kenalilah kebatilan niscaya kamu mengetahui orangnya". Beliau mengucapkan perkataan ini sebagai jawaban atas pertanyaan protes atau keberatan sebagian pengikutnya ketika harus berhadapan dengan sejumlah tokoh sahabat Nabi dan seorang isteri Nabi. Memang mereka bingung dan ragu namun menetapi keimanan kepada kebenaran menuntut untuk menaati kepada Ali sebagai manusia suci.
Selain Ali bin Abi Thalib as, manusia-manusia suci lainnya juga telah menghiasi sejarah kehidupan umat manusia. Meskipun mereka telah tiada, namun ruh dan semangat mereka masih tetap hidup dan memberikan energi sepanjang masa. Ada ungkapan yang mengatakan, "Sesungguhnya kematian Al-Husain masih bergelora di hati orang-orang yang beriman."
Peristiwa Karbala atau Asyura adalah episode monumental yang menjadi bagian dari sejarah umat manusia yang tidak boleh terlupakan. Pada peristiwa itu dipentaskan wajah-wajah kemanusiaan yang indah nan menawan, bersamaan dengan penampilan sisi-sisi kebinatangan yang rakus dan buas, yang berkedok manusia. Al-Husain as. beserta keluarga Nabi saww. dan para sahabatnya mewakili golongan manusia yang sebenarnya berhadapan dengan Umar bin Sa'ad dan kroni-kroninya yang mewakili binatang-binatang yang berkedok manusia.
Al-Husain as., sebagaimana manusia suci lainnya, adalah penentu dan pemisah dengan lisan dan sikapnya, antara manusia yang hakiki dengan binatang yang manusia. Keimanan seseorang diukur dengan sejauh mana kesetiaannya terhadap Al-Husain as. Pada persitiwa Asyura, terdapat tiga tipe manusia:
Pertama, manusia-manusia yang comitted dan konsekwen dengan kebenaran yang mereka yakini. Mereka siap menanggung resiko apapun demi kebenaran meskipun dengan mengorbankan harta dan nyawa. Mereka itu adalah orang-orang yang bergabung bersama Al-Husain as. sampai tetes darah terakhir. Tipe manusia ini seperti yang Allah swt. sebutkan, "Dari kalangan orang-orang yang beriman terdapat orang-orang yang menepati janji mereka kepada Allah, di antara mereka ada yang mendapatkan ajalnya..."(QS Al-Ahzab, 33: 23).
Kedua, manusia-manusia yang menolak kebenaran dan mempertahankan kebatilan karena kecintaan mereka kepada dunia, fanatisme, kebencian, dan lainnya. Mereka itu adalah Yazid bin Mu'awiyah, Ubaidillah bin Ziyad, dan pasukan Umar bin Sa'ad.
Ketiga, manusia-manusia yang mengikuti kebenaran dan menolak kebatilan. Namun keterikatan mereka dengan kebenaran sejauh tidak membawa resiko yang mengancam harta dan nyawa. Mereka ingin mencari jalan yang aman bagi dirinya, mereka meninggalkan kesetiaan kalau menanggung resiko. Tentang tipe ini, Allah berfirman, "Dan dari manusia ada yang menyembah Allah di atas tepi, jika dia mendapatkan kesenangan, maka dia akan tenang dan jika tertimpa fitnah (cobaan) dia akan berpaling..." (QS Al-Hajj, 22 : 11). Pada zaman Al-Husain as. tipe ketiga ini tidak sedikit. Mereka lebih memilih ibadah daripada bergabung dengan Al-Husain untuk berjuang melawan Yazid.
Dengan figur Al-Husain as. diketahui mana di antara kaum Muslimin yang benar-benar manusia, dengan segala nilai kemanusiaannya, dan mana yang benar-benar binatang namun berkedok manusia serta mana yang menyembunyikan kebinatangannya di dalam kesalehan dan ibadah. []
Hari Asyura adalah hari yang sangat penting kedudukannya di dalam Islam. Hari yang oleh Murtadha Muthahari disebut sebagai hari syahid bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Hari yang pesan dan maknanya abadi, tak pernah habis untuk di ungkap di setiap masa. Syahidnya Imam Husain beserta keluarga dan sahabatnya telah memberikan inspirasi dan semangat kepada kaum muslimin yang hidup sesudahnya untuk menegakan kebenaran - Islam - dan meruntuhkan kezaliman (eksploitasi) terhadap nilai - nilai kemanusiaan di seluruh dunia. Penunjukan hari Asyura sebagai hari syahid ini menjadi amat relevan mengingat kedudukan konsep syahid dalam Islam sendiri begitu penting dan mulia, disamping mendorong kaum muslimin untuk mempelajarinya lebih mendalam.
Di setiap berlalunya zaman selalu saja terjadi pengulangan peristiwa (rekonstruksi sejarah). Imam Ali as pernah dalam sebuah kesempatan mengutarakan hal ini. Dari sudut potensi manusia, pengulangan ini amat memungkinkan. Manusia adalah mahluk yang berdimensi dua - dimensi lahir dan batin. Potensi ini dimiliki oleh seluruh manusia yang pernah hidup.
Dari zaman ke zaman kita banyak menyaksikan dua kutub (polarisasi) sikap manusia. Satu kutub selalu memelihara potensi kesucian diri yang dianugerahkan Tuhan, sementara yang satunya sebaliknya. Kalau di zaman dahulu kita mengenal sosok Yazid bin Muawiyyah, maka di zaman modern ini kita mengenal tokoh seperti, Ceucescu, Pinochet, Milosevic, Ne Win, Marcos, Hitler, Musollini, yang merupakan tipikal Yazid. Selain itu kita juga mengenal pribadi seperti Imam Khomeini, Hasan Albanna, Sayid Abbas Musawi - pemimpin Hizbullah dll yang merupakan tipikal yang mengikuti kepribadian Imam Husain as. Dua kutub ini akan terus mewarnai dan menghiasi lembaran - lembaran kehidupan di dunia ini.
Di zaman kontemporer seperti sekarang, peristiwa Asyura inilah yang mengilhami dan membakar semangat pejuang Islam untuk menegakan kebenaran seperti yang terjadi di Libanon (perjuangan Hizbullah), revoulusi Islam di Iran dll. Tokoh besar dalam Islam abad 20 seperti Imam Khomeini - semoga Allah SWT mensucikan ruhnya, Sayid Abbas Musawi, Murtadha Muthahari dan tokoh - tokoh besar Islam di sepanjang masa yang amat kita hormati adalah pribadi - pribadi yang menyerap pesan dan hikmah dari peringatan Asyura.
Ada yang bisa kasih komentar, sebenernya setan itu memang makhluk, yang memang nyata adanya, ataukah ia hanya kiasan belaka yang keberadaannya hanya di alam makna / alam misal ?
Saat Ramadhan misalnya, meskipun disebutkan bahwa setan dibelenggu tapi tetap aja terjadi kemaksiatan. Jadi, setan seprti apa yang dibelenggu ? Dan setan seperti apa yang menggoda manusia - bahkan pada bulan Ramadhan ?
4.20 PM, PSUD ITB
Hari ini begitu cerah, padahal tadi udah mendung siap2 untuk badai lagi. Ya...badai. Kemaren di bandung terjadi badai, kira2 berlangsung selama 3-5 menit. Ngeliat dari jendela PSUD, pohon2 pada tumbang !....eh..ga ding, boong banget. Cuma goyang2 sepete'. Tapi ngeri juga ngeliatnya, soalnya 2 jam sebelumnya terjadi gempa (tapi ga kerasa ama gw..napa ya?).....
Sore ini aku mo pulang cepet (so what!)....untuk skrg seprtinya ga ada yg mesti aku kerjain lagi. Aku mo ngambil foto, mo belanja sedikit, mo makan sesuatu..sendirian ? I don't think so.
Aku mo ngajak dia..sapa tau mau.